KEMISKINAN DAN KESENJANGAN SOSIAL
Pandangan kemiskinan dari setiap ahli berbeda karena data,
dan metode penelitian yang berbeda. Kemiskinan disepakati sebagai masalah yang
bersifat sosial ekonomi, penyebab dan cara mengatasinya terkait dengan ideologi
yang melandasinya. Untuk memahami ideologi tersebut ada tiga pandangan
pemikiran yaitu konservatisme, liberalisme, dan radikalisme (Swasono, 1987).
Penganut masing-masing pandangan memiliki cara pandang yang berbeda dalam
menjelaskan kemiskinan. Kaum konservatif memandang kemiskinan bermula dari
karakteristik khas orang miskin itu sendiri. Orang menjadi miskin karena tidak
mau bekerja keras , boros, tidak mempunyai rencana, kurang memiliki jiwa
wiraswasta, fatalis, dan tidak ada hasrat untuk berpartisipasi.
Semenjak gejolak dan kerusuhan sosial merebak di berbagai
daerah, kesenjangan sosial banyak dibicarakan. Beberapa pakar dan pengamat
masalah sosial menduga bahwa kerusuhan sosial berkaitan dengan kesenjangan
sosial. Ada yang sependapat dengan dugaan itu, tetapi ada yang belum yakin
bahwa penyebab kerusuhan sosial adalah kesenjangan sosial. Tidak seperti
kesenjangan ekonomi, kesenjangan sosial cukup sulit diukur secara kuantitatif.
Jadi, sulit menunjukkan bukti-bukti secara akurat. Namun, tidaklah berarti
kesenjangan sosial dapat begitu saja diabaikan dan dianggap tidak eksis dalam
perjalanan pembangunan selama ini.
1. KEMISKINAN
Dalam kamus ilmiah
populer, kata “Miskin” mengandung arti tidak berharta (harta yang ada tidak
mencukupi kebutuhan). Adapun kata “fakir” diartikan sebagai orang yang sangat
miskin. Secara Etimologi makna yang terkandung yaitu bahwa kemiskinan sarat
dengan masalah konsumsi. Hal ini bermula
sejak masa neo-klasik di mana kemiskinan hanya dilihat dari interaksi negatif
(ketidakseimbangan) antara pekerja dan upah yang diperoleh.
Deskripsi lain, arti definitif kemiskinan yang mulai
bergeser misal pada awal tahun 1990-an definisi kemiskinan tidak hanya
berdasarkan tingkat pendapatan, tapi juga mencakup ketidakmampuan di bidang
kesehatan, pendidikan dan perumahan. Di penghujung abad 20-an telah muncul arti
definitif terbaru, yaitu bahwa kemiskinan juga mencakup kerentanan,
ketidakberdayaan dan ketidakmampuan untuk menyampaikan aspirasi.
Kemiskinan dapat dibedakan menjadi tiga pengertian:
kemiskinan absolut, kemiskinan relatif dan kemiskinan kultural. Seseorang
termasuk golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah
garis kemiskinan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum: pangan,
sandang, kesehatan, papan, pendidikan. Seseorang yang tergolong miskin relatif
sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan namun masih berada di bawah
kemampuan masyarakat sekitarnya. Sedang miskin kultural berkaitan erat dengan
sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki
tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya.
1. Penyebab
kemiskinan:
o Merosotnya standar perkembangan pendapatan per-kapita
secara global.
o Menurunnya etos kerja dan produktivitas masyarakat.
o Biaya kehidupan yang tinggi.
o Pembagian subsidi in come pemerintah yang kurang merata.
2. Perkembangan
tingkat kemiskinan di indonesia
Bagaimana perkembangan tingkat kemiskinan di Indonesia? Program
Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) meluncurkan laporan tahunan
Pembangunan manusia (Human Development Report) 2006 yang bertajuk Beyord
scarcity; power, poverty dan the global water. Laporan ini menjadi rujukan
perencanaan pembangunan dan menjadi salah satu Indikator kegagalan atau
keberhasilan sebuah negara menyejahterakan rakyatnya. Selama satu dekade ini
Indonesia berada pada Tier Medium Human Development peringkat ke 110, terburuk
di Asia Tenggara setelah Kamboja.
Laporan
terakhir, Badan Pusat Statistika ( BPS ) yang telah melaksanakan Survei Sosial
Ekonomi Nasional (SUSENAS) pada bulan Maret 2007 angka resmi jumlah masyarakat
miskin adalah 39,1 juta orang dengan kisaran konsumsi kalori 2100 kilo kalori
(kkal) atau garis kemiskinan ketika pendapatan kurang dari Rp 152.847
per-kapita per bulan.
3. Kebijakan dan
Program Penuntasan Kemiskinan
Upaya
penanggulangan kemiskinan Indonesia telah dilakukan dan menempatkan
penanggulangan kemiskinan sebagai prioritas utama kebijakan pembangunan
nasional. Kebijakan kemiskinan merupakan prioritas Rencana Pembangunan Jangka
Menengah (RPJM) dan dijabarkan lebih rinci dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP)
setiap tahun serta digunakan sebagai acuan bagi kementrian, lembaga dan
pemerintah daerah dalam pelaksanaan pembangunan tahunan.
Sebagai
wujud gerakan bersama dalam mengatasi kemiskinan dan mencapai Tujuan
pembangunan Milenium, Strategi Nasional Pembangunan Kemiskinan telah disusun
melalui proses partisipatif dengan melibatkan seluruh stakeholders pembangunan
di Indonesia. Selain itu, sekitar 60 % pemerintah kabupaten/ kota telah
membentuk Komite penanggulangan Kemiskinan Daerah, dan menyusun Strategi
Penanggulangan Kemiskinan Daerah sebagai dasar arus utama penanggulangan
kemiskinan di daerah dan mendorong gerakan sosial dalam mengatasi kemiskinan.
3.Ciri-ciri Kebudayaan Miskin:
(1)fatalisme
(2)rendahnya tingkat aspires
(3)rendahnya kemauan mengejar sasaran
(4)kurang melihat kemajuan pribadi
(5)perasaan ketidak berdayaan/ketidakmampuan
(6)Perasaan untuk selalu gagal
(7)Perasaan menilai diri sendiri negative
(8)Pilihan sebagai posisi pekerja kasar, dan
(9)Tingkat kompromis yang menyedihkan.
Berkaitan dengan budaya sebagai fungsi adaptasi, maka suatu
usaha yang sungguh-sungguh untuk mengubah nilai-nilai yang tidak diinginkan ini
menuju ke arah yang sesuai dengan nilai-nilai golongan kelas menengah, dengan
menggunakan metode-metodre psikiatri kesejahteraan sosial-pendidikan tanpa
lebih dahulu (ataupun secara bersamaan) berusaha untuk secara berarti mengubah
kenyataan kenyataan struktur sosial (pendapatan, pekerjaan, perumahan, dan
pola-pola kebudayaan membatasi lingkup partisipasi sosial dan peyaluran
kekuatan sosial) akan cendrung gagal. Budaya kemiskinan bukannya berasal dari
kebodohan, melainkan justru berfungsi bagi penyesuaian diri.
4.Kemiskinan Struktural
Kemiskinan strukturl adalah suasana kemiskinan yang dialami
oleh suatu masyarakat yang penyebab utamanya bersumber pada struktur sosial,
dan oleh karena itu dapat dicari pada struktur sosial yang berlaku dalam masyarakat
itu sendiri. Menurut Selo Sumarjan, kemiskinan struktural adalah kemiskinan
yang diderita oleh suatu golongan masyarakat karena struktur sosial masyarakat
itu tidak dapat ikut menggunakan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya
tersedia bagi mereka. Kemiskinan struktural meliputi kekurangan fasilitas
pemukiman, kekurangan pendidikan, kekurangan komunikatif, kekurangan fasilitas
untuk mengembangkan usaha dan mendapatkan peluang kerja dan kekurangan
perlindungan hukum.
Golongan kaum miskin
terdiri dari :
(1)Para petani yang tidak memiliki tanah sendiri
(2)Petani yang tanah miliknya begitu kecil sehingga hasilnya
tidak cukup untuk memberi makan kepada dirinya sendiri dan keluarganya
(3)Kaum buruh yang tidak terpelajar dan tidak terlatih
(unskilled labourerds)
(4)Para pengusaha tanpa modal dan tanpa fasilitas dari
pemerintah (golongan ekonomi lemah).
Kemiskinan struktural meliputi kekurangan sandang dan
pangan, kekurangan fasilitas pemukiman yang sehat, kekurangan pendidikan,
kekurangan komunikasi dengan dunia sekitarnya.
Beberapa ciri kemiskinan struktural :
(1)Tidak ada atau lambannya mobilitas sosial (yang miskin
akan tetap hidup dengan kemelaratanya dan yang kaya akan tetap menikmati
kemewahannya)
(2)mereka terletak dalam kungkungan struktur sosial yang
menyebabkan mereka kekurangan hasrat untuk meningkatkan taraf hidupnya
(3)Struktur sosial yang berlaku telah melahirkan berbagai
corak rintangan yang menghalangi mereka untuk maju. Pemecahan permasalahan
kemiskinan akan bisa dilakukan bilamana struktur sosial yang berlaku itu
dirubah secara mendasar.
Pada hakekatnya perbedaan antara si kaya dengan si miskin
tetap akan ada, dalam sistem sosial ekonomi manapun. Yang lebih diperlukan
adalah bagaimana lebih memperkecil kesenjangan sehingga lebih mendekati
perasaan keadilan sosial. Sudjatmoko (1984) berpendapat bahwa, pembangunan yang
semata-mata mengutamakan pertumbuhan ekonomi akan melanggengkan ketimpangan
struktural. Pola netes ke bawah memungkinkan berkembangnya perbedaan ekonomi,
dan prilaku pola mencari nafkah dari pertanian ke non pertanian, tetapi proses
ini akan lamban dan harus diikuti dengan pertumbuhan yang tinggi. Kemiskinan
tidak dapat diatasi hanya dengan membantu golongan miskin saja, tanpa
menghadapi dimensi-dimensi struktural seperti ketergantungan dan eksploitasi.
Permasalahannya adalah dimensi-dimensi struktural manakah yang mempengarhui
secara langsung terjadinya kemiskinan, bagaimana ketepatan dimensi untuk
kondisi sosial budaya setempat.
Langkah serta Kebijakan yang dilakukan Pemerintah
Cara –cara yang Pemerintah lakukan untuk mengatasi masalah
kemiskinan
Negara mempunyai cara masing-masing dalam mengatasi masalah kemiskinan di dalam
negaranya, begitupun dengan Negara Indonesia. Kiranya pemerintah Indonesia
melakukan kebijakan-kebijakan yang kadang kurang efektif, namun banyak juga
yang berpengaruh positif. Inilah beberapa kebijakan yang pemerintah ambil dalam
mengatasi kemiskinan:
1. Bantuan Langsung Tunai (BLT)
Program Bantuan Langsung Tunai yang merupakan kompensasi
yang diberikan usai penghapusan subsidi minyak tanah dan program konversi bahan
bakar gas. Namun kedua hal tersebut tidak memiliki dampak signifikan terhadap
pengurangan angka kemiskinan. Bahkan beberapa pakar kebijakan negara
menganggap, bahwa hal tersebut sudah seharusnya dilakukan pemerintah. Baik ada
atau tidak ada masalah kemiskinan di Indonesia. Negara wajib menyediakan
jaminan kesejahteraan masyarakat sebagaimana diamanatkan oleh Undang-undang
Dasar 1945.
2. Menjaga stabilitas harga bahan kebutuhan pokok
Fokus program ini bertujuan menjamin daya beli masyarakat
miskin/keluarga miskin untuk memenuhi kebutuhan pokok terutama beras dan
kebutuhan pokok utama selain beras. Program yang berkaitan dengan fokus ini
seperti :
• Penyediaan
cadangan beras pemerintah 1 juta ton
•
Stabilisasi/kepastian harga komoditas primer
3. Mendorong pertumbuhan yang berpihak pada rakyat miskin
Fokus program ini bertujuan mendorong terciptanya dan
terfasilitasinya kesempatan berusaha yang lebih luas dan berkualitas bagi
masyarakat/keluarga miskin. Beberapa program yang berkenaan dengan fokus ini
antara lain:
• Penyediaan
dana bergulir untuk kegiatan produktif skala usaha mikro dengan pola bagi
hasil/syariah dan konvensional.
• Bimbingan
teknis/pendampingan dan pelatihan pengelola Lembaga Keuangan Mikro
(LKM)/Koperasi Simpan Pinjam (KSP).
• Pelatihan
budaya, motivasi usaha dan teknis manajeman usaha mikro
• Pembinaan
sentra-sentra produksi di daerah terisolir dan tertinggal
• Fasilitasi
sarana dan prasarana usaha mikro
• Pemberdayaan
ekonomi masyarakat pesisir
• Pengembangan
usaha perikanan tangkap skala kecil
• Peningkatan
akses informasi dan pelayanan pendampingan pemberdayaan dan ketahanan keluarga
4. Menyempurnakan dan memperluas cakupan program pembangunan
berbasis masyarakat.
Program ini bertujuan untuk meningkatkan sinergi dan
optimalisasi pemberdayaan masyarakat di kawasan perdesaan dan perkotaan serta
memperkuat penyediaan dukungan pengembangan kesempatan berusaha bagi penduduk
miskin. Program yang berkaitan dengan fokus ketiga ini antara lain :
• Program
Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) di daerah perdesaan dan perkotaan
• Program
Pengembangan Infrastruktur Sosial Ekonomi Wilayah
• Program
Pembangunan Daerah Tertinggal dan Khusus
• Penyempurnaan
dan pemantapan program pembangunan berbasis masyarakat.
5. Meningkatkan akses masyarakat miskin kepada pelayanan
dasar.
Fokus program ini bertujuan untuk meningkatkan akses
penduduk miskin memenuhi kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan prasarana dasar.
Beberapa program yang berkaitan dengan fokus ini antara lain :
• Penyediaan
beasiswa bagi siswa miskin pada jenjang pendidikan dasar di Sekolah Dasar
(SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah
Tsanawiyah (MTs);
• Beasiswa siswa miskin jenjang Sekolah
Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah (SMA/SMK/MA);
• Beasiswa
untuk mahasiswa miskin dan beasiswa berprestasi;
• Pelayanan
kesehatan rujukan bagi keluarga miskin secara cuma-cuma di kelas III rumah
sakit
6. Membangun dan
menyempurnakan sistem perlindungan sosial bagi masyarakat miskin.
Fokus ini bertujuan melindungi penduduk miskin dari
kemungkinan ketidakmampuan menghadapi guncangan sosial dan ekonomi. Program
teknis yang di buat oleh pemerintah seperti :
• Peningkatan
kapasitas kelembagaan pengarusutamaan gender (PUG) dan anak (PUA)
• Pemberdayaan
sosial keluarga, fakir miskin, komunitas adat terpencil, dan penyandang masalah
kesejahteraan sosial lainnya.
• Bantuan sosial untuk masyarakat rentan,
korban bencana alam, dan korban bencana sosial.
• Penyediaan
bantuan tunai bagi rumah tangga sangat miskin (RTSM) yang memenuhi persyaratan
(pemeriksaan kehamilan ibu, imunisasi dan pemeriksaan rutin BALITA, menjamin
keberadaan anak usia sekolah di SD/MI dan SMP/MTs; dan penyempurnaan
pelaksanaan pemberian bantuan sosial kepada keluarga miskin/RTSM) melalui
perluasan Program Keluarga Harapan (PKH).
• Pendataan
pelaksanaan PKH (bantuan tunai bagi RTSM yang memenuhi persyaratan
7. Membangun Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat (PNPM)
KUR merupakan kredit program yang diluncurkan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono pada November 2007. KUR ditujukan bagi pengusaha mikro
dan kecil yang tidak memiliki agunan tambahan dengan plafon maksimal Rp 500
juta. Bank bersedia menyalurkan KUR karena kreditnya dijamin oleh pemerintah.
Selain program KUR, pemerintah juga menyiapkan program dalam
pengentasan kemiskinan di Indonesia. Tentu saja program ini juga akan bersinergi dengan program
pemberdayaan sector UMKM. Program ini dinamakan dengan Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat atau yang lebih di kenal dengan singkatan PNPM.
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat yang diresmikan
oleh Presiden SBY pada Februari 2007 ini diharapkan dapat menjangkau 31,92 juta
penduduk miskin di Indonesia atau sekitar 7,96 juta keluarga miskin. Pada tahun
2007 program PNPM ini ditujukan bagi 2.891 kecamatan yang terdiri dari 2.057
kecamatan dalam PNPM Pedesaan dan 834 kecamatan dalam PNPM Perkotaan yang
tersebar di 33 Provinsi. Setiap kecamatan akan mendapatkan dana Bantuan
Langsung Masyarakat (BLM) antara Rp 500 juta dan Rp 1,5 miliar per tahun yang
disesuaikan dengan jumlah penduduk miskin di tiap kecamatan.
Melalui program ini, sebanyak 31,92 juta penduduk miskin
diharapkan dapat tertanggulangi. PNPM Pedesaan akan menjangkau 21,92 penduduk
miskin, sedangkan PNPM Perkotaan mencakup sekitar 10 juta penduduk miskin.
Adapun lapangan kerja baru yang tercipta adalah 12,5-14,4 juta per tahun dengan
asumsi di setiap kecamatan pada Program Pengembangan Kecamatan (PPK) dan
Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) ada 8-20 desa yang
berpartisipasi dengan asumsi setiap desa rata-rata menciptakan sekitar 250
lapangan kerja baru per tahun.
Jumlah dana PNPM untuk tahun 2007 diperkirakan Rp 4,43
triliun yang terbagi atas PNPM Pedesaan Rp 2,48 triliun dan PNPM Perkotaan Rp
1,95 triliun. Dari dana Rp 4,43 triliun, sebesar 3,62 triliun dari APBN 2007
dan sekitar Rp 813 miliar merupakan kontribusi APBD pemerintah daerah melalui
mekanisme cost sharing.
Berikut adalah cara pemerintah dalam mengatasi kemiskinan,
masih banyak lagi program yang telah pemerintah canangkan untuk mengatasi
kemiskinan namun masih belum terealisasi dengan sempurna. Kita sebagai warga
Negara yang baik harusnya turut membantu pemerintah dalam mengatasi kemsikinan.
Karena pemerintah bukan apa-apa tanpa peran kita sebagai masyarakat, berikut
adalah cara yang saya tambahkan, yang mungkin kita dapat lakukan dan juga
semoga pemerintah mampu menjalankannya dengan baik, yaitu :
• Menciptakan
lapangan kerja yang mampu menyerap banyak tenaga kerja sehingga mengurangi
pengangguran. Karena pengangguran adalah salah satu sumber penyebab kemiskinan
terbesar di Indonesia.
• Menghapuskan
korupsi. Sebab, korupsi adalah salah satu penyebab layanan masyarakat tidak
berjalan sebagaimana mestinya. Hal inilah yang kemudian menjadikan masayarakat
tidak bisa menikmati hak mereka sebagai warga negara sebagaimana mestinya.
Pemerintah memang telah menjalankan program ini, namun belum dapat
terealisasikan dengan baik.
• Menggalakkan
program zakat. Di Indonesia, Islam adalah agama mayoritas. Dan dalam Islam
ajaran zakat diperkenalkan sebagai media untuk menumbuhkan pemerataan
kesejahteraan di antara masyakrat dan mengurangi kesenjangan kaya-miskin.
Potensi zakat di Indonesia, ditengarai mencapai angka 1 trilliun setiap
tahunnya. Dan jika bisa dikelola dengan baik akan menjadi potensi besar bagi
terciptanya kesejahteraan masyarakat.
2. KESENJANGAN SOSIAL
Kesenjangan sosial
diartikan sebagai kesenjangan (ketimpangan) atau ketidaksamaan akses untuk
mendapatkan atau memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Sumber daya bisa
berupa kebutuhan primer, seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, peluang
berusaha dan kerja, dapat berupa kebutuhan sekunder, seperti sarana
pengembangan usaha, sarana perjuangan hak azasi, sarana saluran politik,
pemenuhan pengembangan karir, dan lain-lain.
Kesenjangan sosial dapat disebabkan oleh adanya
faktor-faktor penghambat sehingga mencegah dan menghalangi seseorang untuk
memanfaatkan akses atau kesempatan-kesempatan yang tersedia. Secara teoritis
sekurang kurangnya ada dua faktor yang dapat menghambat.
Faktor-faktor Kesenjangan Sosial:
1.Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri seseorang
(faktor internal),
Rendahnya kualitas sumberdaya manusia karena tingkat
pendidikan (keterampilan) atau kesehatan rendah atau ada hambatan budaya
(budaya kemiskinan). Kesenjangan sosial dapat muncul sebagai akibat dari
nilai-nilai kebudayaan yang dianut oleh sekelompok orang itu sendiri.
Akibatnya, nilai-nilai luas, seperti apatis, cenderung menyerah pada nasib,
tidak mempunyai daya juang, dan tidak mempunyai orientasi kehidupan masa depan.
2.Faktor-faktor yang berasal dari luar kemampuan seseorang
(factor eksternal),
Hal ini dapat terjadi karena birokrasi atau ada
peraturan-peraturan resmi (kebijakan), sehingga dapat membatasi atau memperkecil akses seseorang untuk
memanfaatkan kesempatan dan peluang yang tersedia. Dengan kata lain,
kesenjangan sosial bukan terjadi karena seseorang malas bekerja atau tidak
mempunyai kemampuan sebagai akibat keterbatasan atau rendahnya kualitas
sumberdaya manusia, tetapi karena ada hambatan-hambatan atau tekanan-tekanan
struktural
Kesenjangan sosial tidak semata-mata karena faktor internal
dan kebudayaan, tetapi lebih disebabkan oleh adanya hambatan struktural yang
membatasi serta tidak memberikan peluang untuk memanfaatkan
kesempatan-kesempatan yang ada. Breman (1985:166) menggambarkan bahwa bagi yang
miskin “jalan ke atas sering kali dirintangi”, sedangkan “jalan menuju ke bawah
terlalu mudah dilalui”. Dengan kata lain, gejala kesenjangan sosial dan
kemampuan kemiskinan lebih disebabkan adanya himpitan struktural.
Ketidakberdayaan (politik) dan kemiskinan kronis menyebabkan mereka mudah
ditaklukkan dan dituntun untuk mengikuti kepentingan dan kemauan elit penguasa
dan pengusaha. Apalagi tatanan politik dan ekonomi dikuasai oleh elit penguasa
dan pengusaha.
Pemecahan dan Solusi Kesenjangan Sosial Di Indonesia
Indonesia merupakan negara yang besar dan salah satu negara
yang memiliki kepulauan yang banyak serta letaknya berjauhan. Kesenjangan
sosial sangatlah mungkin terjadi di Indonesia karena banyak daerah-daerah
terpencil yang terisolir dari keramaian. Dan Indonesia adalah suatu negara yang
tingkat korupsinya sangat tinggi, di dunia Indonesia masuk dalam 5 besar negara
terkorup.Sebenarnya Indonesia mampu menjadi negara yang maju dan menjadi negara
yang mampu menyejahterakan masyarakatnya. Kerana Indonesia memiliki sumber daya
alam yang sangat kaya dan melimpah tetapi kenapa masih terjadi kesenjangan
sosial yang sangat mencolok. Ini menjadi pertanyakan besar yang perlu adanya
jawaban dan titik terang. Dalam hal ini merupakan tugas bagi pemerintah
sekarang,bagaimana lebih menyejahterakan masyarakat serta meminimalis
kesenjangan sosisal. Banyak hal yang bisa dilakukan pemerintah untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pemecahan kesenjangan sosial yang
terjadidi masyarakat.
Upaya-upaya yang harus dilakukan pemerintah untuk pemecahan
masalah kesenjangan sosial yang terjadi di Indonesia:
1. Meminimalis (KKN) dan memberantas korupsi dalam upaya
meningkatan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah telah membentuk suatu lembaga
yang bertugas memberantas (KKN) di Indonesia. Indonesia telah mulai berbenah
diri namun dalam beberapa kasus soal korupsi KPK dinilai masih tebang pilih
dalam menindak masalah korupsi. Misalnya kasus tentang bank century belum
menemukan titik terang dan seolah-olah mengakiri kasus itu. Pemerintah harus
selalu berbenah diri karena dengan meminimaliskan (KKN) yang terjadi mampu
meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan dana yang ada.
2. Meningkatkan system keadilan di Indonesia serta melakukan
pengawasan yang ketat terhadap mafia hukum. Masih banyak mafia hokum merajarela
di Indonesia itu yang semakin membuat kesenjangan sosial di Indonesia makin
mencolok.
Keadilan saat ini sangatlah sulit untuk ditegagakkan
bagaimana tidak! Seorang koruptor ditahan namun semua fasilitas sudah tercukupi
di dalam ruang tahanan. Sedangkan bagaimana dengan nasib seorang masyarakat
kecil yang hanya mencuri ayam misalnya, mereka melakukan dengan seenak mereka
kadang juga mereka menyiksa dengan tidak prikemanusiaan. Hal ini sangatlah
menunjukkan kesenjangan sosial di Indonesia sangatlah mencolok antara pihak
kaya atau pihak yang mempunyai penguasa antara rakyat kecil atau orang miskin.
2.Masalah Kesenjangan Sosial
1. Kemisikinan, Meski saat ini angka pertumbuhan ekonomi
bangsa kita terus menunjukan grafik kenaikan namun pada kenyataannya masih
banyak masyarakat di sekitar kita yang hidupnya masih berada di bawah standar
yang layak. Ini menjadi masalah sosial yang bisa kita temukan dengan mudah baik
di daerah pedesaan maupun perkotaan.
2. Lapangan kerja, Masalah sosial yang satu ini bisa
mendorong timbulnya masalah lain yang tidak kalah seriusnya yaitu meningkatnya
angka kriminalitas, kehidupan suatu keluarga yang tidak harmonis, rasa frustasi
dan lain lain. Hal ini juga menjadi urusan yang butuh penanganan serius.
3. Kesenjangan sosial, Masalah sosial ini juga bisa
menimbulkan efek yang lain. Misalnya terdapat perbedaan yang sangat mencolok
antara orang yang mampu dan kelebihan harta serta orang yang hidupnya selalu
dalam kondisi yang pas pasan saja. Hal ini bisa menimbulkan rasa kecemburuan
yang tinggi sehingga menghilangkan rasa persaudaraan di masyarakat.
4. Kemacetan lalu lintas, Masalah sosial yang satu ini lebih
sering terjadi terutama di kota-kota besar. Padahal efek dari kemacetan ini
juga bisa menimbulkan kerugian yang cukup besar. Misalnya karena harus antri di
keramaian lalu lintas orang akan kehilangan waktu untuk bekerja atau kegiatan
lain yang bersifat produktif.
5. Disiplin yang kurang, Hal ini menjadi masalah sosial yang
paling punya pengaruh terhadap kemajuan suatu wilayah atau negara. Namun untuk
menangani masalah yang satu ini memang dibutuhkan kerja keras dan waktu yang cukup lama. Karena untuk
menghilangkan problem yang kadangkala sudah menjadi budaya ini butuh pemahaman
yang cukup dalam warga.
4.BEBERAPA INDIKATOR KESENJANGAN DAN KEMISKINAN
1.Indikator Kesenjangan
Cara pengukuran lainnya yang juga umum digunakan, terutama
oleh Bank Dunia adalah dengan cara jumlah penduduk dikelompokkan menjadi tiga
group :
40% penduduk dengan pendapatan rendah,
40% penduduk dengan pendapatan menengah,
20% penduduk dengan pendapatan tinggi dari jumlah penduduk.
Selanjutnya,
ketidakmerataan pendapatan diukur berdasarkan pendapatan yang dinikmati oleh
40% penduduk dengan pendapatan rendah.
2.Indikator Kemiskinan
Karena adanya perbedaan lokasi dan standar kebutuhan hidup
batas garis kemiskinan yang digunakan setiap negara berbeda-beda. Badan Pusat
Statistik (BPS) menggunakan batas miskin dari besarnya rupiah yang dibelanjakan
per kapita sebulan untuk memenuhi kebutuhan minimum makanan dan bukan makanan
(BPS, 1994). Untuk kebutuhan minimum makanan digunakan patokan 2.100 kalori per
hari. Sedangkan pengeluaran kebutuhan
minimum bukan makanan meliputi pengeluaran untuk perumahan, sandang,
serta aneka barang dan jasa.
BPS menggunakan 2 macam pendekatan, yaitu :
1.Pendekatan kebutuhan dasar (basic needs approach)
Basic Needs Appoarch merupakan pendekatan yang sering
digunakan. Dalam metode BPS, kemiskinan dikonseptualisasikan sebagai
ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar.
2.Pendekatan Head Count Index
Head Count Index merupakan ukuran yang menggunakan
kemiskinan absolut. Jumlah penduduk miskin adalah jumlah penduduk yang berada
di bawah batas yang disebut garis kemiskinan, yang merupakan nilai rupiah dari
kebutuhan minimum makanan dan non makanan. Dengan demikian, garis kemiskinan
terdiri dari 2 komponen, yaitu garis kemiskinan makanan (food line) dan garis
kemiskinan non makanan (non food line).
III KESIMPULAN
Jadi kesenjangan
sosial tidak semata-mata karena faktor internal dan kebudayaan, tetapi lebih
disebabkan oleh adanya hambatan struktural yang membatasi serta tidak
memberikan peluang untuk memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang tersedia.
Kendati faktor internal dan kebudayaan (kebudayaan kemiskinan) mempunyai andil
sebagai penyebab kesenjangan sosial, tetapi tidak sepenuhnya menentukan.
Di Indonesia, kemiskinan merupakan salah satu masalah besar. banyak studi empiris yang
memang membuktikan adanya suatu relasi trade off yang kuat antara laju
pertumbuhan pendapatan dan tingkat
kemiskinan, hubungan negatif tersebut tidak sistematis. Namun, dari beberapa
studi empiris yang pernah dilakukan, pendekatan yang digunakan berbeda-beda dan
batas kemiskinan yang dipakai beragam pula, sehingga hasil atau gambaran mengenai
hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan juga berbeda.
Sumber:
http://ratnasarivicky09.blogspot.co.id/2011/03/kemiskinan-dan-kesenjangan-sosial.html
https://punyaprasetyo.wordpress.com/2012/04/20/cara-cara-yang-pemerintah-lakukan-untuk-mengaatasi-masalah-kemiskinan/
http://pustaka-makalah.blogspot.co.id/2011/03/kesenjangan-sosial.htmlhttp://pustaka-makalah.blogspot.co.id/2011/03/kesenjangan-sosial.html
Nama Kelompok :
Firabian Arisya
Dewy
Purnama Sari
Mahathir
Al Maulana